JOURNAL REVIEW

Reformasi Pendidikan Di Indonesia

Dalam Perspektif Pendidikan Islam

download dibawah ini untuk selengkapnya REVIER JURNAL Prof.Amir Muallim,MIS

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU

Oleh : Edy Muslimin, S.Ag

1.   Pendahuluan

Islam sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran pertama ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu aqidah yang harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Firman Allah dalam QS. Yunus ayat 101 :

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ (١٠١)

Artinya :    Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Perhatikan juga QS. Al-Baqarah ayat 164 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)

Artinya :    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Membahas ilmu pengetahuan dalam Islam berarti membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Allah baik ayat qouliyah maupun ayat-ayat kauniyah yang didalamnya sarat muatan multi iptek. Dalam al-Qur’an juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh untuk mempejari, meneliti dan memperhatikan ilmu pengetahuan. Dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an telah menjadi penggerak utama manusia untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan.[1]

Maka relevan kiranya jika dalam tulisan ini membahas tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Tulisan ini menelusuri perkembangan ilmu pada zaman pra Yunani kuno (abad ke 15-7 SM) sampai dengan perkembangan ilmu pada zaman kontemporer (abad ke-20).

2.   Zaman pra Yunani Kuno abad ke-15-7 SM

Cony R. Semiawan menyebutkan bahwa masa ini meliputi kurun waktu kurang lebih 15.000 tahun sampai kurang lebih 600 tahun sebelum masehi. Pengetahuan kita mengenai masa ini diperoleh dari tulisan-tulisan yang dibuat pada masa itu sendiri. Kemajuan khusus pada masa itu adalah pengembangan kemampuan membaca, menulis dan menghitung. Ketiga kemampuan tersebut perlahan-lahan berkembang di berbagai tempat di dunia dan banyak berperan dalam pengembangan kebudayaan dan berdirinya kerajaan-kerajaan besar pada masa itu yaitu di Afrika (Mesir), Asia Tengah (Sumeria, Babilonia, Niviveh), Asia Timur (Tiongkok) dan Amerika Tengah (Maya dan Inca).

Dengan dikuasainya kemampuan membaca dan menulis, berkembanglah kebiasaan untuk melakukan pencatatan informasi dan pengumpulan data secara sistematis sehingga akumulasi pengetahuan dan pengalaman mulai memasuki babak yang lebih teratur dan lebih murni dibandingkan pada waktu dokumentasi dan penyebaran informasi masih berdasarkan tradisi lisan. Pencatatan secara sistematis ini merupakan suatu ciri yang membuat perkembangan ilmu berjalan lebih cepat dan lebih pasti daripada waktu-waktu sebelumnya.

Salah satu aplikasi pencatatan sistematis dan pengumpulan data itu ialah dikembangkannya penemuan-penemuan baru seperti peta perbintangan dengan konstelasinya yang merupakan cikal bakal zodiak yang kita kenal sekarang. Aplikasi untuk kehidupan sehari-hari ialah ditemukannya siklus mingguan, siklus bulan, dan siklus matahari yang selanjutnya menjadi dasar pembuatan macam-macam kalender yang kita kenal, baik yang berdasarkan peredaran bulan maupun yang berdasarkan peredaran matahari. Selanjutnya dengan temuan itu, gejala alam seperti gerhana bulan dan gerhana matahari dapat diramalkan berdasarkan pengamatan astronomis. Penemuan berbagai macam bahan serta cara mengolah membuka peluang untuk realisasi potensi imajinatif dan elaborasi daya kreasi manusia dengan dipakainya bahan-bahan untuk menciptakan berbagai macam patung dan perhiasan dengan nilai artistik dan finansial yang sukar diukur tingginya, seperti yang ditemukan di situs-situs purbakala dari sisa-sisa kebudayaan-kebudayaan besar.

Pencapaian ini tidaklah menghilangkan kenyataan bahwa pada dasarnya manusia pada zaman purba memperoleh pengetahuannya masih secara alamiah, artinya tanpa disadari dan tanpa disengaja, meskipun semua pencapaian tersebut sampai sekarang masih tetap dianggap merupakan bagian dari perkembangan ilmu dan pengetahuan.[2]

3.   Zaman Yunani Kuno Abad ke 7-2 SM

Zaman ini meliputi kurun waktu 600 tahun SM sampai kurang lebih 200 SM.[3] Sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di Yunani telah berkembang berbagai mitos. Bahkan untuk pertama kalinya filsafat dikembangkan melalui jalan mitologis. Mitos-mitos yang berkembang merupakan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada. Berbagai pertanyaan atas ketidaktahuan atau kepenasaran manusia atas eksistensi jagat raya, jawabanya hanya ada dalam mitos. Bumi gelap karena digenggam oleh raksasa yang sedang marah, sehingga manusia harus berusaha meredakan kemarahannya dengan berbagai cara misalnya memberi sesajen, meyakini adanya kekuatan lain di luar alam fisik, adanya para dewa dan sebagainya. Khayalan tersebut menjadi keyakinan yang selanjutnya membentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada di dalamnya. Dengan mitologi yang berkembang pada masyarakat Yunani kuno sebelum filsafat berdiri dengan jati dirinya yang asli sebagai filsafat. Mitos adalah filsafat itu sendiri yang menurut penciptanya sama sekali bukan mitos, melainkan cara berfikir empiris, logis dan realitas. Sesungguhnya bangsa Yunani kuno merupakan bangsa yang cerdas dalam menyampaikan pesan-pesan filosofisnya melalui penciptaan mitos-mitos yang disusun melalui berbagai pendekatan. Contohnya melalui puisi, cerita rakyat, sastra dan berbabagai karya pahatan dan bangunan bersejarah.[4]

Yunani kuno sudah memiliki suatu penalaran yang selalu menyelidik yang tidak mau menerima    peristiwa dan pengalaman-pengalaman begitu saja secara pasif, tetapi ingin terus mencari sampai sedalam-dalamnya akar dari semua fenomena yang begitu beragam di alam ini. Karakteristik penalaran serupa tampaknya tidak dapat dilepaskan dari pandangan orang Yunani pada waktu itu mengenai harkat manusia, bahwa manusia itu makhluk luhur yang memiliki kebebasan. Karena itu orang Yunani menggambarkan dewa-dewanya dengan mengambil bentuk manusia, yaitu manusia yang ideal. Pandangan orang Yunani mengenai manusia itu melandasi asas demokrasi yang dipraktekkan mereka sehari-hari dalam kehidupan dan terus menerus merupakan sumber inspirasi dalam kehidupan bermasyarakat berbagai bangsa sampai saat ini. Usaha para filsuf pada zaman itu untuk menyelidiki dan menjelaskan secara rasional akar dari fenomena alam yang diamatinya tidak diwarnai oleh tujuan-tujuan praktis dan pragmatis, tetapi tampaknya hanya digerakkan oleh motivasi estetis semata, yang bertujuan untuk memberikan kepuasan batin orang yang bersangkutan saja.

Salah seorang tokoh Yunani terkemuka dalam lingkup filsafat ilmu yang merupakan pelopor utama logika deduktif yang menitikberatkan rasionalitas ialah Aristoteles, dan dia bukanlah filsuf yang pertama yang memberikan kontribusi dalam pengembangan penalaran filosofis. Akan tetapi, Aristoteles-lah yang logikanya bertahan selama kira-kira 2000 tahun, dan selama ini karya-karyanya praktis tidak mengalami perubahan berarti. Aristoles adalah murid Plato dan Plato adalah murid Socrates. Namun Aristoteles tidak selalu mengikuti pendapat gurunya, tetapi lebih banyak mengembangkan pemikirannya sendiri.[5]

Gerakan demitologi yang dilakukan oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles telah menjadikan filsafat mampu mencapai perkembangkan yang mencengangkan (remarkable). Sejak itu filsafat yang bercorak mitologis berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang praktis dan mulai menjarak dengan aspek-aspek mistik. Indikator tersebut dapat dilihat dari pernyataan Aristoles yang mengatakan bahwa filsafat adalah aktifitas pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya ilmu harus bebas dari ikatan keyakinan dan bebas dari keyakinan dan bebas dari doktrin dan pemahaman yang kaku.[6] Pasca Aristoteles, filsafat Yunani Kuno menjadi ajaran praksis, bahkan mistis, sebagaimana diajarkan oleh Stoa dan Epicuri, dan kemudian Plotinus. Bersamaan dengan mulai pudarnya kekuasaan Romawi merupakan isyarat datangnya tahapan baru yaitu filsafat yang mengabdi kepada agama. Hadirnya filsuf besar yaitu Augustinus dan Thomas Aquinas memberi ciri khas kepada filsafat abad Tengah. Filsafat Yunani Kuno yang sekuler telah dicairkan dengan doktrin gerejani.[7]

3.   Zaman Pertengahan abad ke-2 – 14 M

Ahmad Tafsir menyebutkan bahwa permulaan abad pertengahan dimulai sejak Plotinus yang lahir pada tahun 204 M di Mesir. Dalam berbagai hal Plotinus bersandar pada doktrin-doktrin Plato yang menganut realitas idea. Namun idea keilmuan tidak begitu maju pada Plotinus, ia menganggap sains lebih rendah daripada metafisika, metafisika lebih rendah daripada keimanan. Surga lebih berarti daripada bumi sebab surga itu tempat peristirahatan jiwa yang mulia. Bintang-bintang adalah tempat tinggal dewa-dewa. Ia juga mengakui adanya hantu-hantu yang bertempat diantara bumi dan bintang-bintang. Hal ini menggambarkan rendahnya mutu sains Plotinus.[8] Disisi lain Semiawan berpendapat bahwa zaman ini meliputi kurun waktu dari beberapa tahun sebelum tahun 500 M dimulai sampai beberapa tahun setelah tahun 1500 M dimulai dengan mengambil patokan beberapa kejadian penting di Eropa, baik dalam bidang politik (perubahan daerah kekuasaan Negara-negara) maupun dibidang sosial budaya (penemuan alat cetak).

Di sisi lain pengaruh bahasa Arab berlangsung dari tahun 300 M sampai kurang lebih tahun 1400. karya-karya orang Yunani terutama Aristoteles, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan setelah tahun 1300 dipelajari oleh bangsa-bangsa Eropa.[9]

Sutarjo A. Wiramihardja sebagaimana dikutip Atang Abdul Hakim menyebutkan Bahwa zaman pertengahan  (200 M – 1600 M) sering dianggap sebagai zaman  ketika filsafat begitu erat, bahkan berada di bawah naungan agama. Zaman ini dibagi ke dalam empat periode, yaitu zaman Patristik, Zaman awal Skolastik, Zaman keemasan Skolastik dan Zaman akhir abad pertengahan.

  1. Zaman Patristik

Istilah patristik berasal dari kata latin “Patres” yang berarti bapak dalam lingkungan gereja. Bapak yang mengacu pada pujangga Kristen, mencari jalan menuju teologi kristiani, melalui peletakan dasar intelektual untuk agama Kristen. Zaman keemasan patristik meliputi Yunani maupun latin yang muncul pada masa yang kurang lebih sama. Di Yunani zaman keemasan terbangun setelah Kaisar Constantinus Agung mengeluarkan “Edik Milano” yang melindungi warganya dalam dan untuk menganut agama Kristen. Tiga bapak gereja yang penting untuk dikenal pada masa ini adalah Gregorius dari Nazianza (330-390), Basilius (330-379), dan adiknya Gregorius dari Nyssa (335-394). Mereka membangun sintesis dari agama Kristen dan kebudayaan helenitas. Di antara orang tersebut yang paling pandai adalah Gregorius dari Nyssa. Pada dasarnya mereka menggunakan neoplatonisme, namun mereka menolak disebut neoplatonisme yang merendahkan materi. Pada abad ke-8, zaman keemasan Patristik Yunani berakhir yang ditandai dengan Johannes Damascenus sebagai raja yang menulis suatu karya berjudul “sumber pengetahuan” yang secara sistematis menggambarkan seluruh sejarah filsafat pada zaman patristik Yunani sebanyak tiga jilid.

Zaman keemasan Patristik latin terjadi pada abad ke-4. nama besar jajaran bapak gereja barat adalah Augustinus (354-430) yang dinilai menjadi pemikir terbesar untuk seluruh zaman Patristik. Kekuatan dan kelemahan pemikiran Augustinus adalah bahwa pemikiran merupakan integrasi dari teologi Kristen dan pemikiran falsafatinya.

Pada pemikiran Augustinus, ada beberapa hal penting yang dapat dipahami, yaitu sebagai berikut :

1)      Iluminasi atau penerangan. Rasio insani hanya dapat abadi jika mendapat penerangan dari rasio ilahi.

2)      Dunia jasmani yang terus menerus berkembang bergantung kepada Allah. Prinsip perkembangannya berbeda dengan evolusi Darwin karena tidak mengandung mutasi jenis. Menurut pandangannya bahwa didalam benih itu segala hal telah ada, seperti sesudah telur, lahirlah ayam.

3)      Manusia yang dipengaruhi platonisme, tetapi tidak mengakui dualisme ekstrem Plato, jiwanya senantiasa terkurung tubuh. Tubuh bukan merupakan sumber kejahatan, sumber kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas.

Masuknya filsafat Averroes (Ibnu Rusyd) yang sangat Aristotalian ke Eropa melalui Cordova, telah diwarisi oleh kaum patristic dan skolastik muslim. Warisan itu bersifat kualitatif dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, Wels dalam karyanya “The Outline of History” menyimpulkan bahwa “Jika orang Yunani menjadi Bapak Metode Ilmiah, orang muslim adalah bapak angkatnya”.[10]

  1. Zaman Awal Skolastik

Ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus diperhatikan dalam memahami filsafat masa ini.

Pertama, ahli pikir Boethius (480-524), ia dianggap sebagai filosof akhir Romawi dan filosof pertama skolastik. Jasanya adalah menerjemahkan logika Aristoteles. Kedua, Kaisar Karel Agung, pendidikan yang dibangunnya terdiri dari tiga jenis, yaitu pendidikan yang digabungkan dengan biara, pendidikan yang ditanggung keuskupan, dan pendidikan yang dibangun raja atau kerabat kerjaan. Ketiga, Johannes Scotus Eriugena, Anselmus dan Abelardus. Eriogena berjasa menterjemahkan karya Pseudo Dionysios ke dalam bahasa latin sehingga menjadi referensi bagi dunia pemikiran abad selanjutnya. Sedang Anselmus meluruskan perkataan Augustinus dengan mengatakan “saya percaya supaya saya mengerti”. Ia terkenal karena argumentasinya bahwa Allah itu benar-benar ada.

Berikutnya adalah Abelardus (1079-1142) yang berjasa memberi sumbangan terhadap penyelesaian masalah yang ramai dibicarakan kalangan skolastik yaitu masalah “Universalia” yang menyangkut konsep-konsep umum yang menentukan kodrat dan kedudukan konsep-konsep tersebut.

  1. Zaman Keemasan Skolastik

Ahmad Syadali dan Mudzakir menyebutkan bahwa masa kejayaan skolastik belangsung dari tahun 1200-1300 M, masa ini dikenal dengan masa berbunga, karena bersamaan dengan munculnya ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan.[11] Ada dua ordo yang terkenal yaitu ordo Fransiskan yang didirikan Fransiskus pada tahun 1209, dan ordo dominikan yang didirikan Dominikus pada tahun 1215. Di berbagai kota, para eksponen dominikan mendirikan rumah studi (stadium generate) yang digabungkan dengan universitas setempat.

Ajaran Aristoteles masuk ke dunia barat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung ajaran ini masuk melalui Arab dengan tokoh-tokohnya seperti Ibnu Sina (980-1037), Ibnu Rusyd (1126-1198) dan beberapa filosof Yahudi. Sedang secara langsung ajaran ini masuk melalui Sisilia.[12] Selain itu Ahmad Syadali juga menuliskan, tahun 1200 M di dirikan Universitas Almamater di Perancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah, sebagai awal (embrio) berdirinya universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lain.[13]

  1. Zaman Akhir Abad Pertengahan

Filsafat abad pertengahan diawali oleh Boethius diakhiri oleh Nicolaus Cusanus (1401-1464). Nicolaus Cusanus membedakan tiga macam pengenalan yaitu pancaindera, rasio dan intuisi. Pengenalan inderawi kurang sempurna, rasio membentuk konsep berdasarkan pengenalan inderawi. Adapun aktifitasnya dikuasai prinsip nonkontradiksi (tidak mungkin sesuatu ada dan tidak ada). Dengan intuisi manusia dapat mencapai segala sesuatu tidak terhingga. Allah merupakan obyek intuisi manusia, dalam diri Allah semua hal yang berlawanan akan mencapai kesatuan (coincidentia oppositorium). Pengetahuan yang luas membuat Nicolaus tidak sekadar menjadi eksponen abad pertengahan, ia juga mencintai eksperimen sehingga membawanya pada pemikiran ilmu masa modern.

Setelah masa Yunani berlangsung begitu rupa, muncul dan bangkitlah masa periode Renessance. Sementara ilmu pengetahuan Arab dalam kemunduran, eropa mulai menggeliat dari tidurnya menyaksikan kecemerlangan peradaban Islam. Mereka sadar akan ketertinggalan dan keterbelakangan ilmu pengetahuan mereka. Dan akhirnya pada abad ke-13, mereka mulai mengedakan gerakan penerjemahan. Universitas Eropa mulai didirikan, mula-mula di Paris, Oxford dan Cambridge, lalu di Italia dan negeri-negeri Eropa lainnya. Pemikiran-pemikiran ilmiah itu memperoleh support dari guru-guru besar Universitas, seperti Robert Gtoust (1250 M), Albert Magnus (1280 M), dan Roger Bacon (1294).[14]

4.   Zaman Renaissance abad ke-2-14 M

Menurut Hart sebagaimana dikutip Atang Abdul Hakim, Sejarah keilmuan lebih berkembang mulai abad ke-14 dan 15 melalui ekspedisi-ekspedisi besar, seperti ekspedisi Vasco Dagama ke India Timur, sedang kapten kapalnya yaitu Abdul Majid (Arab) dan ekspedisi Christhoper Colombus (1451-1506) ke India Barat. Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 M oleh Johann Gutenberg (1400-1468) merupakan titik balik yang paling penting.[15]

Harun Hadiwijono menyebutkan bahwa abad ke-15 dan ke-16 dikuasai oleh suatu gerakan yang disebut Renessance.[16] Kata ini berasal dari bahasa Prancis. Dalam bahasa latin, re dan nasci berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16.[17]

Unsur-unsur renaissance yang menggarami filsafat ialah Humanisme, kebangkitan untuk mempelajari sastera klasik dan penyambutan yang dengan semangat atas realitas hidup. Perbedaan pemikiran filsafati abad pertengahan dan pemikiran filsafati renaissance adalah sebagai berikut :

Filsafat abad pertengahan lebih mencurahkan perhatian kepada hal-hal yang abstrak dan kepada pengertian-pengertian, sedang hal yang konkrit terlalu diabaikan. Sedangkan perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang konkrit diperhatikan oleh filsafat zaman renaissance. Perhatian itu ditujukan kepada alam semesta dan kepada manusia, kepada kehidupan masyarakat dan kepada sejarah. Meskipun terdapat perubahan-perubahan yang begitu asasi, namun abad-abad renaissance tidaklah secara langsung menjadi tanah subur bagi pertumbuhan filsafat. Baru pada abad ke-17 daya hidup yang kuat yang timbul pada zaman renaissance itu mendapatkan pengungkapannya yang serasi dibidang filsafat. Jadi kejadian-kejadian pada abad ke-15 dan ke-16 tersebut hanya menjadi persiapan bagi pembentukan filsafat pada abad ke-17 tersebut.[18]

Ahmad Tafsir menuliskan bahwa berkembangnya penelitian empiris merupakan salah satu ciri zaman renaissance. Oleh karena itu ciri selanjutnya adalah munculnya sains dalam bidang filsafat. Tokoh-tokoh penemu bidang sains antara lain Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630), dan Galileo Galilei (1564-1643, semua tokoh tersebut hidup pada zaman renaissance.[19]

5.   Zaman Modern abad ke 17 – 19 M

Zaman modern sangat dinantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman Yunani kuno yang begitu bebas dan tidak dikekang oleh tekanan dari luar dirinya. Ciri filsafat modern antara lain ingin menghidupkan kembali rasionalisme keilmuan, subyektifisme (individualisme), humanisme dan lepas dari pengaruh atau dominasi agama (gereja).

Filsafat abad modern pada pokoknya ada 3 aliran :

a.       Aliran Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M)

Descartes disamping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak aliran filsafat modern. Ia tidak puas dengan filsafat scholastic karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian, disebabkan karena tidak ada metoda berpikir yang pasti. Pendapatnya adalah “ Cogito Ergo Sum” saya berfikir maka jelaslah bahwa saya ada. Dan sumber kebenaran adalah rasio. Penganut aliran ini adalah Blaise Pascal (1623-1662 M), Nicole Malehranche (1678-1718 M), Spinoza (1632-1677 M dan Leibniz (1646-1716)

b.      Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M)

Aliran ini bertentangan dengan aliran rasionalisme, menurut aliran ini bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman, sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang palin jelas dan sempurna. Pengikut aliran ini adalah John Locke (1632-1704 M), David Hume (1711-1776) dan Gerge Berkeley (1665-1753).

c.       Aliran Kristicisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M)

Immanuel Kant berusaha menengahi aliran Rasionalisme dan Empirisme dengan filsafat kristicisme (aliran kritis) dengan menulis buku berjudul “Kritik der Reinen Vernunft (kritik atas rasio murni), Kritik der Urteilskraft (kritik atas daya pertimbangan).[20]

6.   Zaman Kontemporer abad ke-20 dst

Dalam pandangan Semiawan, salah satu ciri perkembangan masyarakat pada abad ke-20 ditandai pemikirannya terhadap keberadaannya dan sikap dasar pribadi tentang pandangannya. Problem inti yang mendasari pemikiran ini adalah bagaimana seseorang memandang dirinya dan orang lain dalam menyimak kehadirannya di alam ini. Jean-Paul Sartre salah seorang filsuf diantara filsuf eksistensialis, berpendapat bahwa filsuf abad ke-20 menelaah hakikat kemanusiaan dengan menerapkan kemanusiaan asli pandangannya dalam kaitan dengan dirinya maupun orang lain.[21]

Moh. Hasyim, dalam bukunya menyebutkan paling tidak ada empat pemikiran yang jelas dapat disebut existensialisme. Pemikiran tersebut adalah pemikiran Martin Heidegger, J.P. Sartre, Karl Jaspers dan pemikiran Gabriel Marcel. Beberapa ciri yang dimiliki bersama yaitu :

  1. Motif pokok adalah apa yang disebut exsistensi, yaitu cara manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia oleh karena itu bersifat humanistis.
  2. Ber-existensi harus diartikan secara dinamis. Ber-existensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Ber-existensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih baik atau kurang dari keadaannya.
  3. Di dalam filsafat ini, manusia dipandang sebagai terbuka “Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk”. Pada hakekatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, terlebih kepada sesama manusia.
  4. Filsafat ini memberi tekanan kepada pengalaman yang exsistensial. Misalnya kematian, penderitaan, kesalahan dan sebagainya.[22]

Disisi lain Harun Hadiwijono menjelaskan bahwa pada filsafat pada abad ke-20 terdapat bermacam-macam aliran antara lain aliran pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi, dan eksistensialisme.[23] Namun tampaknya yang lebih menonjol adalah aliran existensialime ini.

7.   Kesimpulan

Mengakhiri tulisan ini perlu kiranya disampaikan sebuah kesimpulan sebagai berikut :

  1. Bahwa perkembangan ilmu zaman pra Yunani kuno meliputi kurun waktu kurang lebih 15.000 tahun sampai kurang lebih 600 tahun sebelum masehi. Pengetahuan kita mengenai masa ini diperoleh dari tulisan-tulisan yang dibuat pada masa itu sendiri.
  2. Mitos-mitos yang berkembang merupakan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada pada zaman Yunani kuno.
  3. Zaman pertengahan dibagi ke dalam empat periode, yaitu zaman Patristik, Zaman awal Skolastik, Zaman keemasan Skolastik dan Zaman akhir abad pertengahan.
  4. Perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang konkrit diperhatikan oleh filsafat zaman renaissance.
  5. Ciri filsafat zaman modern antara lain ingin menghidupkan kembali rasionalisme keilmuan, subyektifisme (individualisme), humanisme dan lepas dari pengaruh atau dominasi agama (gereja).
  6. Perkembangan ilmu pada abad ke-20 ditandai pemikirannya terhadap keberadaannya dan sikap dasar pribadi tentang pandangannya. Problem inti yang mendasari pemikiran ini adalah bagaimana seseorang memandang dirinya dan orang lain dalam menyimak kehadirannya di alam ini.

DAFTAR PUSTAKA

Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum : dari Mitologi sampai Teofilosofi. Bandung : CV Pustaka Setia

Ahmad Syadali dan Mudzakir, 1997. Filsafat Umum untuk Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin. Bandung : CV. Pustaka Setia

Ahmad Tafsir, 2004. Filsafat Umum : Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset

Conny R. Semiawan, 1991. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Edy Muslimin dkk, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Surakarta : Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah Kota Surakarta

Harun Hadiwijono, 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Moh. Hasyim, 2004. Filsafat Umum. Surakarta : STAIN Surakarta

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2001. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Liberty


[1] Edy Muslimin dkk, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Surakarta : Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah Kota Surakarta, hal. 19-23

[2] Conny R. Semiawan, 1991. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hal. 6-7

[3] Ibid, hal. 8

[4] Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum : dari Mitologi sampai Teofilosofi. Bandung : CV Pustaka Setia, hal. 39-41

[5] Conny R. Semiawan, Ibid. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. hal. 9

[6] Atang Abdul Hakim, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 43

[7] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2001. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Liberty, hal. 3

[8] Ahmad Tafsir, 2004. Filsafat Umum : Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, hal. 66 dan 71

[9] Conny R. Semiawan, Ibid. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. hal.15

[10] Atang Abdul Hakim, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 69-71

[11] Ahmad Syadali dan Mudzakir, 1997. Filsafat Umum untuk Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin. Bandung : CV. Pustaka Setia, hal. 93

[12] Atang Abdul Hakim, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 75

[13] Ahmad Syadali dan Mudzakir, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 94

[14]Atang Abdul Hakim, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 77

[15]Atang Abdul Hakim, Ibid, hal. 78

[16]Harun Hadiwijono, 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta : Penerbit Kanisius, hal. 11

[17]Ahmad Tafsir, Ibid. Filsafat Umum, hal. 124-125

[18]Harun Hadiwijono, Ibid. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, hal. 12-13

[19]Ahmad Tafsir, Ibid. Filsafat Umum, hal. 126

[20]Ahmad Syadali dan Mudzakir, Ibid. Filsafat Umum. Hal. 101-103

[21]Conny R. Semiawan, Ibid. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. hal. 38

[22]Moh. Hasyim, 2004. Filsafat Umum. Surakarta : STAIN Surakarta, hal. 69-70

[23]Harun Hadiwijono, Ibid. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, hal. 130-148

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MANAJEMEN MUTU MADRASAH

MANAJEMEN MUTU MADRASAH
Oleh : Edy Muslimin

A. PENDAHULUAN
Masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini belum keluar sepenuhnya dari krisis multidimensi yang menjamah seluruh sendi bangsa. Demikian halnya dalam dunia pendidikan tampaknya belum juga keluar dari krisis, dan belum sepenuhnya dapat menemukan model pendidikan ideal bagi bangsa ini. Namun kondisi ini bukannya tidak ada hikmah yang dapat diambil, setidaknya kran demokrasi telah terbuka dan kebebasan berpendapat memperoleh penghargaan yang cukup memadai. Pendidikan juga terus menerus mencari model ideal dalam dunia pendidikan kita. Indonesia baru saja meninggalkan suatu bentuk kehidupan yang memasung otonomi berfikir. Kebebasan menyatakan pendapat merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus dipertahankan dan dikembangkan. Pendobrakan terhadap suatu sistem lama bukan saja diperlukan suatu komitmen politik dari masyarakat Indonesia tetapi juga perlu didukung oleh berbagai sarana dan dana yang memadai. Untuk itulah perlu adanya konsep dan kajian yang lebih luas agar dapat disusun dan dikembangkan suatu sistem nasional yang benar-benar sejalan dan searah dengan gerakan reformasi.
Pembukaan undang-undang dasar 1945 memberi amanat yang tegas bahwa tujuan membentuk Negara kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun dalam realitasnya bangsa Indonesia belum mampu mengatasi berbagai krisis termasuk krisis dalam dunia pendidikan. Tilaar menyebutkan bahwa dewasa ini ada dua hal yang menonjol yaitu :
1. Bahwa pendidikan tidak terlepas dari keseluruhan hidup manusia di dalam segala aspeknya yaitu politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan.
2. Krisis yang dialami bangsa Indonesia dewasa ini merupakan refleksi dari krisis pendidikan nasional.

Puncak dari krisis ini, mutu pendidikan nasional semakin hari semakin merosot, semakin jauh dari cita-cita yang dicanangkan secara resmi oleh pendiri Negara (founding fathers) beberapa tahun sesudah sesudah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, yaitu pendidikan nasional yang berkualitas dan demokratis, yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata kehidupan internasional modern. Namun tidak diingkari bahwa pembangunan bidang pendidikan bersama bidang pembangunan lain juga telah berhasil mengenalkan dan mengangkat nama bangsa Indonesia dalam tata kehidupan internasional cukup baik, meskipun hingga kini Indonesia masih termasuk golongan Negara berkembang, belum termasuk Negara industri baru apalagi kategori Negara maju, seperti beberapa Negara serumpun yaitu Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan Jepang, bahkan kedua Negara terakhir ini sudah tergolong Negara maju. Namun hasil positif yang telah dicapai tersebut jauh tidak seimbang dengan umur kemerdekaan Indonesia. Disisi lain dalam beberapa tahun ini sebagian besar media informasi memberitakan tentang kekerasan, perampokan, korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), penindasan, pemerasan dan pemerkosaan, perselingkuhan pelanggaran hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Kompleksitas masalah ini seolah-olah dialamatkan pada sekolah atau madrasah terutama agamawan dan para guru sebagai pendidik. Fenomena lain yang dapat diamati adalah UU pendidikan nasional No. 2 tahun 1989 tidak mampu menghadapi tantangan global (eksternal) dan tantangan dalam negeri (internal). Di sisi lain Prof. Suyata berpendapat bahwa sistem persekolahan di negeri ini adalah sistem cangkokan, transplantasi yang masih berusaha memperoleh posisi dan peranan yang tepat dalam dinamika sistem kemasyarakatan negeri ini. Sistem persekolah di negeri asal pencakokan yang didasarkan pada permasalahan, filosofi, keyakinan, nilai-nilai dan pemikiran tertentu negeri tersebut boleh jadi tidak sejalan dengan hal serupa di negeri ini.

B. MANAJEMEN MUTU
Dari pengalaman demi pengalaman tersebut agaknya perlu di sikapi secara arif, karena mutu pendidikan sekolah terutama Madrasah tidak semudah seperti apa yang kita bayangkan, perlu ada sebuah konsep manajemen yang baik. Manajemen merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan, manajemen yang baik akan memudahkan mencapai tujuan suatu lembaga. Dalam studi manajemen terdapat pandangan yang merumuskan pengertian manajemen yaitu suatu proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia serta sumber-sumber lainnya menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam dunia pendidikan mungkin perlu diterapkan manajemen yang baik terutama mutu sebagaimana dalam dunia bisnis, barangkali ini sebuah revolusi, namun butuh waktu, pemeliharaan, perubahan sikap semua pihak dan investasi dalam bentuk pelatihan untuk semua staf. Mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang jelek. Mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan, sehingga mutu merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin kompetitif.

C. SASARAN MUTU
Sasaran mutu dalam manajemen mutu madrasah barangkali bisa mengadopsi pendapat sebagai berikut :
1. Input
Ada dua pertanyaan fundamental yang perlu diungkapkan ketika kita berusaha memahami mutu. Pertama, adalah apa produknya ? dan kedua, adalah siapakah pelanggannya ? Pelajar atau peserta didik dianggap sebagai produk dari pendidikan. Sedang calon peserta didik dianggap sebagai pelanggan. Karena produk adalah sebuah subyek dari proses jaminan mutu, maka hal pertama yang harus dilakukan produsen/madrasah adalah menentukan dan mengontrol sumber persediaan. Selanjutnya, pelanggan atau calon peserta didik madrasah sebagai bahan mentah harus melewati beberapa proses standar yang telah ditetapkan, dan hasil produksi harus dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dan didefinisikan sebelumnya. Model semacam itu menuntut adanya suatu seleksi awal bagi pelajar yang hendak diproses.

2. Proses
Sebagian besar proses dan hasil pendidikan Madrasah masih relatif memprihatinkan terutama dalam rangka mencapai standar kualitas pendidikan secara nasional maupun internasional. Faktor lain yang dihadapi madrasah adalah masyarakat agaknya kurang memiliki kebebasan untuk mengelola dengan caranya sendiri, karena hampir semua hal yang berkaitan dengan pendidikan sudah ditentukan oleh pemegang otoritas pendidikan (birokratik sentralistik), yang menempatkan madrasah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang panjang jalurnya dan kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi Madrasah. Dengan demikian Madrasah kehilangan kemandirian, motivasi dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional. Sebagai dampak selanjutnya adalah muncul empat masalah utama yang dihadapi Madrasah yaitu :
a. Masalah identitas diri madrasah, sehingga program pengembangannya sering kurang jelas dan tertarah.
b. Masalah jenis pendidikan yang dipilih sebagai alternatif dasar yang akan dikelola untuk menciptakan satu sistem pendidikan yang masih memiliki titik tekan keagamaan tetapi iptek perlu diberi porsi yang seimbang.
c. Semakin langkanya generasi muslim yang mampu menguasa ajaran Islam.
d. Masalah sumber daya internal yang ada dan pemanfaatannya bagi pengembangan madrasah.
Keempat masalah tersebut intinya terkait dengan aspek manajerial, yakni proses manajemen pengembangan madrasah yang belum banyak bertolak dari visi dan misi serta tujuan dan sasaran yang jelas, sehingga pengelolaannya sering kurang terarah bahkan meninggalkan identitas madrasah sendiri.

3. Output
Proses pendidikan diarahkan pada action dan bukan semata-mata suatu perbuatan rasional yang abstrak tetapi menuju pada suatu tujuan. Suatu pertemuan pedagogis/pendidikan merupakan suatu tindakan rasional etis. Hal ini yang membedakan antara manusia sebagai output mutu pendidikan, berbeda dari binatang yang tindakannya berdasarkan instink dan bukan berdasarkan pertimbangan rasional serta didasarkan pada etika. Manusia memilih yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan kemaslahatan hidup bersama, ini artinya tindakan manusia sebagai output diarahkan oleh suatu sistem nilai atau norma dalam masyarakat. Tindakan manusia selalu dalam wacana kebudayaan, yakni kebudayaan Indonesia yang sedang kita bangun. Selain itu harus dipahamkan pada peserta didik bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang pluralis yang memiliki beraneka ragam budaya. Uraian mengenai tindakan pedagogis pada peserta didik madrasah sebagai output, menunjukkan bahwa kekuasaan Negara haruslah mempunyai legitimasi moral.

D. SISTEM JAMINAN MUTU
Standar mutu Inggris BS5750 dan standar internasional ISO9000, baru-baru ini mendapat perhatian serius dari dunia pendidikan. Dua standar tersebut mendapatkan perhatian serius terutama dari Amerika dan Eropa. Sekitar 17.000 perusahaan di Inggris sudah terdaftar pada standar BS5750. Hal ini tidak mengejutkan mengingat para ahli pendidikan disana memiliki kesadaran untuk menerapkan standar tersebut ke dalam institusi mereka. Pertumbuhan gerakan kerjasama pendidikan dan bisnis telah berhasil merangsang ketertarikan dan perhatian masyarakat terhadap berbagai metodologi bisnis termasuk BS5750.
BS5750 dipublikasikan pertama kali pada tahun 1979 dengan nama Quality systems. Pada mulanya adalah system yang diterapkan Menteri Pertahanan dan NATO, yang dikenal sebagai AQAP, Allied Quality Assurance Procedures (Proses Jaminan Mutu Sekutu), yang menjadi kebutuhan organisasi ini dalam posisi mereka sebagai agen-agen belanja mereka. Sebuah lembaga tentu saja dapat merencanakan system jaminan mutunya sendiri. BS5750/ISO9000 tidak serta merta lebih baik dari standar yang direncanakan secara internal. Satu-satunya keuntungan BS5750/ISO9000 adalah kepemilikan mereka terhadap validasi dan pengakuan eksternal. BS5750/ISO9000 hanya mengatur standar bagi system mutu dan tidak mengatur standar yang harus dicapai oleh institusi atau pelajarnya. Apa yang dilakukan BS5750/ISO9000 adalah menegaskan sebuah system yang menjamin beroperasinya standar yang telah diputuskan.
Audit terhadap system mutu dilaksanakan oleh auditor internal dan eksternal, dan untuk auditor eksternal tentu ada tambahan biaya. BS5750/ISO9000 adalah hal baru dalam pendidikan. Sebuah system mutu pendidikan pasti menghadapi sesuatu yang sulit untuk dihadapi, kebijakan mutu dan strategi pelaksanaannya harus mengenal dampak konsistensi layanan terhadap interaksi murid atau staf. Melalui alasan ini banyak orang berpendapat bahwa sekolah atau madrasah lebih baik meninggalkan BS5750/ISO9000 dan menunggu publikasi standar industri layanan yang mungkin memberikan pendekatan yang lebih simpatik terhadap masalah konsistensi mutu layanan. Skala waktu jelas penting, namun isu-isu produk dan hasil dari proses pembelajaran akan sangat dibutuhkan untuk diarahkan dalam sebuah statemen kebijakan mutu institusi. Metode praktis dalam menghadapi masalah ini adalah tidak secara langsung mengarah kepada proses pembelajaran, namun diawali dengan identifikasi hak yang diharapkan para pelajar dari institusi, serta membangun system yang menyediakan hak-hak konsisten tersebut. Jika hak-hak tersebut diidentifikasikan terlebih dahulu, maka hal tersebut akan menimbulkan dampak langsung terhadap proses pembelajaran tanpa harus mencari konsistensi dalam interaksi selama proses itu berlangsung.

E. LANGKAH-LANGKAH JAMINAN MUTU
Dr. W. Edward sebagaimana dikutip Arcaro menjelaskan 14 perkara yang menggambarkan apa yang dibutuhkan sebuah kegiatan bisnis untuk mengembangkan budaya mutu. Pada mulanya banyak pendidik berupaya menerapkan butir-butir dari Dr. Deming itu dalam pendidikan tanpa mempertimbangkan kendala aturan, politik dan budaya yang unik dalam pendidikan. Empat belas perkara tersebut diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan Teknik Region 3 di Lincoln, Maine dan Soundwell College di Bristol, Inggris. Kedua sekolah tersebut dapat mencapai sasaran yang sudah digariskan dalam butir-butir tersebut dan mampu memperbaiki outcome siswa dan administrative. Butir-butir tersebut dinamakan Hakikat Mutu dalam Pendidikan yaitu :
1. Menciptakan konsistensi tujuan
2. Mengadopsi filosofi mutu total
3. Mengurangi kebutuhan pengujian
4. Menilai bisnis sekolah dengan cara baru
5. Memperbaiki mutu dan produktifitas serta mengurangi biaya
6. Belajar sepanjang hayat
7. Kepemimpinan dalam pendidikan
8. Mengeliminasi rasa takut
9. Mengeliminasi hambatan keberhasilan
10. Menciptakan budaya mutu
11. Perbaikan proses
12. Membantu siswa berhasil
13. Komitmen
14. Tanggung jawab.

Dr. Deming menegaskan bahwa biarkanlah setiap orang di sekolah untuk bekerja menyelesaikan tranformasi mutu. Transformasi merupakan tugas setiap orang.

F. PDCA
1. Plan
Fase perencanaan mutu membantu sekolah atau wilayah memastikan bahwa semua stakeholder terlibat dalam proses. Dalam fase perencanaan mutu, madrasah membentuk struktur yang membentengi kemungkinan masalah tersebut muncul lagi. Langkahnya adalah identifikasi keluaran, identifikasi kostumer, identifikasi keinginan kostumer.
2. Do / Melakukan/mengorganisasi
Fase mengorganisasi mutu memungkinkan sekolah memonitor dan melacak anggota dan kegiatan tim mutu yang ada. Komite pengarah mutu menentukan adanya kebutuhan pembentukan satuan tugas dan melacak jumlah satuan tugas yang dibentuk dan orang yang ditugaskan pada masing-masing tim. Komite pengarah mutu menyelesaikan lembar kerja pengorganisasian mutu untuk menetapkan apakah ada kebutuhan untuk membentuk satuan tugas guna memecahkan masalah.
3. Control
Fase control atau monitoring mutu kerap diabaikan oleh organisasi pemerintahan, pendidikan dan bisnis. Dalam fase ini tim menetapkan standar mutu untuk pemecahan masalah dan menggunakan lembaran kerja monitoring mutu untuk memastikan bahwa proses benar-benar memberikan hasil yang diharapkan. Bila proses secara konsisten memberikan hasil yang diinginkan maka tim dapat melakukan dua hal berikut :
a. Tim dapat dibubarkan
b. Tim dapat mengimplementasikan siklus perbaikan berkelanjutan.
4. Action/Implementasi
Inilah fase paling popular, fase ini dibagi dalam empat tahap yaitu, tim memecahkan masalah, waktu pemecahan masalah, alasan pemecahan masalah dan rencana tindak. Satuan tugas mengidentifikasi kendala dalam menjalankan proyek mutu untuk memastikan bahwa penyelesaian masalah bisa memenuhi baik permintaan kostumer maupun sekolah atau madrasah. Berikutnya tim akan memutuskan bagaimana solusi diterapkan. Langkah berikutnya adalah tim mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan untuk mengoreksi masalah. Langkah terakhir adalah menetapkan rencana tindak, dalam hal ini satgas menyalin informasi dari lembar kerja yang sudah dilengkapi sebelumnya pada lembar kerja rencana tindak.

G. KESIMPULAN
Uraian diatas dapat disimpulkan sebabagai berikut :
1. Pendidikan juga terus menerus mencari model ideal dalam dunia pendidikan kita.
2. Pendidikan tidak terlepas dari keseluruhan hidup manusia di dalam segala aspeknya yaitu politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan.
3. Manajemen merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan, manajemen yang baik akan memudahkan mencapai tujuan suatu lembaga.
4. Mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan, sehingga mutu merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin kompetitif.
5. Sebuah lembaga tentu saja dapat merencanakan system jaminan mutunya sendiri. BS5750/ISO9000 tidak serta merta lebih baik dari standar yang direncanakan secara internal.

Demikian makalah singkat ini disampaikan, semoga menjadi bahan masukan berharga untuk perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Edward Sallis, 2010. Total Quality Management In Education : Manajemen Mutu Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dkk, Yogyakarta : Ircisod

H.A.R. Tilaar, 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta

H.A.R. Tilaar, 2003. Kekuasaan dan Pendidikan, Magelang : Indonesia Tera

Jerome S. Arcaro, 2007. Pendidikan Berbasis Mutu : Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Mastuhu, 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21. Yogyakarta : Safiria Insania Press

Muhaimin, 2007. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta : PT. RajaGrafindo

Oemar Hamalik, 2007. Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Suyata, tt. Makalah Refleksi Sistem Pendidikan Nasional dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Posted in Pendidikan | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment